Becak Dikancah Pilkada Membaca Yang Tersirat

Becak kayuh bukanlah sarana transportasi yang sering digunakan oleh para polotisi si kehidupan sehari hari, selain terkesan kurang maniawi, juga kurang memiliki nilai gengsi.Namun becak ini akan mendadak nail daun pada saat saat menjelang pesta demokrasi.Banyak para politisi yang jadi suka naik becak, bahkan tidak sedikit yang mendadak rela jadi tukang becak.

Hal tersebut dimungkinkan karena becak dan profesi tukang becak adalah simbol representasi dari kehidupa n rakyat jelata., rakyat klalangan bawah, atau simbol rakyat miskin, yng kebetulan jumlahnya masih lumayan banyak di kebumen.
Dan lewat becak inilah para politisi ingin menyampaikan pesan tersiratnya, bahwa mereka juga merakyat, ingin dekat dengan rakyat, dan peduli dengan rakyat.
Lewat becak itulah mereka juga ingin menyampaikan hasrat tersiratnya agar dipilih oleh rakyat, bisa menjadi wakil rakyat, dan memimpin rakyat.

Ketika pak JOKOWI naik becak pada masa kampanye dulu, saya percaya, dilubuk hatinya tidaklah terbesit rasa sok sugih, semugih, walaupun faktanya memang pk JOKOWI sudah sugih. Juga saya percaya dibenak pk JOKOWI tiada maksud untuk menyengsarakan pendukungnya dengan mengayuh becak keliling lapangan.
Pastilah beliau hanya ingin berbagi kebahagiaan, kegembiraan dalam keramaian bersama para pendukungnya.

jokowi naik becak

Demikian juga dengan pk GANJAR PRANOWO, ketika berkampanye naik becak bersama istri tercinta. Pastilah dalam lubuk hati beliau tk sedikitpun terbesit pemikiran untuk menyamakan tukang becak dengan kuda, tidak ingin merendahkan derejat tukang becak dengan binatang penarik dokar. Pastilah beliau hanya ingin mengajak pendukungnya, yang kebetulan tukang becak untuk ikut berpartisipasi memeriahkan acara kampanyenya. Kalaupun saat ini beliau berdua tdk terlihat lagi naik becak, saya percaya bukan karena beliau tidak suka atau sudah lupa, tapi karena sudah disibukan oleh tugas tugas negara.

ganjar naik becak

Tak jauh bedalah dengan mas FUAD, salah satu calon bupati kebumen, yang dalam karnaval HUT RI kemarin memilih naik becak untuk bersosialisasi. Saya percaya dilubuk hatinya yang paling dalam tidaklah “rumangsa dadi BOS” yg dngan mudahnya bisa membeli becak berapapun, walau fktanya mas FUAD adalah bos dari PT TRADHA Group.

fuad yazid naik becak
Saya percaya beliau hanyalah ingin menggunakan acara karnafal sebagai media untuk bersosialisasi. Tak ada maksud untuk “menyengsarakan” si tukang becak. Kalaupun becak yang dipilihnya sebagai media untuk sosialisasi, mungkin saja beliau terinspirasi dari pk GANJAR PRANOWO dan JOKOWI yabg jelas sudah

“jadi”.

Adapun jika tukang becaknya disimbolkan dengan wajah pk BUYAR WINARSO, mantan bupati kebumen, saya, dan mungkin juga maayarakat kebumen yg lainnya percaya bahwa tak ada niatan sedikitpun dari maa FUAD untuk melecehkan pk BUYAR. Mungkin hanya simbol, bahasa tersirat, bahwa pk BUYAR, telah mendukungnya, siap mengantarnya menuju pendopo kabupaten.

Dalam dunia sosialisasi, ikkan, pastilah akan ada bahasa tersitat, bahasa simbol. Jika ketika menterjemahkannya dilandasi pemikiran yang negatif, maka hasil terjemahannyapun cenderung negatif. Tapi ketika menterjemahkannya dngan pikiran yang jernih, hati yg bersih, percayalah hasil terjemahannyapun ajan selaras dengan bahasa tersirat yang disampaikan.

Marilah menjadi pendukung dan pemilih yg cerdas juga bijak. Cerdas dalam memberikan dukungan kepada calon yang dipilihnya, bijaj dalam menggunakan hak pilih. Dan saya percaya , warga kebumen PASTI BISA!!! TERUSKAN…>>

penulis :

Guntur Imam Samudra Guntur dalam status facebook : Becak Dikancah Pilkada Membaca Yang Tersirat.

Suara Rakyat Kebumen

Saya menulis artikel ini dikarenakan ada alasan yang sangat mendasar dan tentu saja karena setiap orang mempunyai hak yang sama untuk menyuarakan pendapatnya. Hak tersebut dilindungi dalam undang-undang dasar 1945 dan juga ada dalam Pancasila Sila Ke-4. Tapi masalahnya kepada siapa kita menyampaikan aspirasi kita atau suara kita?

Ada banyak cara dalam menyalurkan suara kita :

  1. Suarakan keluhan ataupun pendapatmu ke wakil-wakil kita yang duduk di dpr, baik ditingkat kabupaten, propinsi maupun yang ada di pusat.
  2. Suarakan pendapat Anda ke kepala daerah, bupati, gubernur dan lebih bagus lagi bisa tembus ke presiden langsung.
  3. Jika poin 1 dan 2 belum terpenuhi bisa lapor rt atau rw setempat.
  4. Tapi bagaimana kalau poin 1 2 dan 3 tidak terpenuhi? bisa melakukannya di sosial media seperti facebook dan twitter. Karena sosial media sekarang mampu memberikan dukungan yang luar biasa.

Nah buat yang sibuk dengan kerjaannya ataupun kurang mampu bersosialisasi, khusus warga kebumen bisa gabung ke grup facebook SRK “SUARA RAKYAT KEBUMEN” untuk menyampaikan unek-uneknya. Asalkan disampaikan secara baik dan sopan tanpa membawa isu SARA. Kemudahan ini semoga dapat dimanfaatkan oleh para facebooker Kebumen.

Sebagai contoh berikut ini unek-unek saya :

Media Sosial dan Website Berita misal Facebook dan Lukulo Media apabila digabungkan menjadi media informasi efektif dan murah. Jadi Saya hanya memberikan sedikit unek-unek bahwa pemerintah yang akan dipimpin oleh bakal calon bupati yang baru.

Sebaiknya manfaatkan media tersebut sebagai ajang publikasi setiap kebijakan yang diterapkan. Karena selain informasi langsung ke tiap warga melalui perwakilannya yang telah ditunjuk. Internet memudahkan dan memberikan fasilitas berbagi informasi gratis.

dengan demikian apabila ada project yang baik untuk rakyat mudah diterima,

namun apabila ada program atau proyek pemerintah tidak pro rakyat akan dengan mudah di tolak melalui internet.

Jadinya, internet sosial media atau netizen bisa jadi tolak ukur yang baik untuk menentukan sebuah kebijakan dan untuk kontrol contoh tentang moge kenaren atau pak jk yang sekarang jadi trending topik.

rakyat tidak hanya bisa menjalankan kebijakan akan tetapi ikut membantu mengontrol kebijakan jika ada kekeliruan.

Tulisan tersebut, saya posting di https://www.facebook.com/groups/cempaka17/permalink/1022635841092619/.