Yahya Yazid Angkat Bicara Soal Membangun dan Kemiskinan

FUAD YAZID ==== 001 ====

Membangun merupakan tugas setiap manusia sebagai wujud Khalifah Allah di bumi. Manusia baik sebagai perorangan maupun dalam wadah lembaga – seperti Pemerintah Daerah misalnya – wajib melakukan Pembangunan. Dengan pembangunan maka kondisi sesuatu diperbaiki dan ditingkatkan menjadi lebih baik. Bukan pembangunan kalau akibat dari kegiatan tersebut menyebabkan sesuatu tidak menjadi lebih baik.

Dalam kontek pemerintahan, membangun harus berarti memperbaiki kondisi atau memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan pembangunan, tatanan pemerintahan dan masyarakatnya harus lebih baik yang ditandai dengan meningkatnya kapasitas ekonomi dan kesejahteraannya. Kondisi kesejahteraan yang lebih baik ini harus menjadi pemandu dan tujuan utama kegiatan pembangunan.

Problem utama pembangunan saat ini adaalah kemiskinan. Sejalan dengan hal itu, maka orientasi utama pembangunan haruslah pada bagaimana mengatasi kemiskinan masyarakatnya.

Menghadapi tugas besar dan berat ini, pemerintah bisa jadi salah dan ambigu dalam mengambil kebijakan. Kesalahan ini berakibat gagalnya menjalankan misi utama mensejahterakan masyarakat terutama masyarakat miskin.

Persoalan pembangunan dan pengentasan kemiskinan, cakupan dua hal tersebut amat sangat komplek. Mengingat keterbatasan ruang penulisan ini, maka tulisan ini yang akan kami sajikan secara bersambung, dimaksudkan hanya dalam tataran konsep dan strategi pokoknya saja, sehingga tidak mencakup tataran opersional secara luas.

Sejalan dengan akan berlangsungnya Pilkada Kebumen ditahun 2015 ini, Tulisan kecil dan ringan ini barangkali, sekali lagi barangkali, dapat dijadikan referensi untuk kita semua dalam perumusan Visi dan Misi Pembangunan lima tahun ke depan, atau bagi siapapun yang mungkin memerlukan.

KEMISKINAN

Terlepas dari beberapa kriteria dan indikator yang digunakan, kemiskinan merupakan kondisi dari seseorang/rumah tangga yang serba kekurangan. Orang miskin menyandang beberapa masalah rendahnya kapasitas ekonomi/sosial seperti pengangguran, rendahnya penghasilan, rendahnya derajat kesehatan dan pendidikan. Kondisi ini menimbulkan kapasitas sosial maupun ekonominya tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya secara memadai.

Selain karena faktor internal seperti tersebut di atas, kemiskinan juga merupakan resultante dari interaksi kemampuan rumah tangga dengan kondisi lingkungan dimana dia tinggal. Kemiskinan bisa saja terjadi karena seseorang tinggal dalam suatu wilayah yang kurang menguntungkan bagi aspek ekonomi maupun sosialnya. Oleh sebab itulah maka pendekatan spasial dalam pengentasan kemiskinan harus diterapkan.

Prosentase penduduk miskin di Jawa Tengah dan juga Kebumen masih cukup tinggi. Untuk Provinsi Jawa Tengah di tahun 2014 sebesar 13,58 %, dan Kebumen sebesar 19,97 %. Bandingkan dengan angka Nasional yang hanya 10,96 %. Artinya prosentase penduduk miskin di Jawa Tengah masih lebih tinggi dari rata rata Nasional, dan di Kebumen masih lebih tinggi dari rata rata Jawa Tengah. Sebuah sumber bahkan menyebutkan prosentase penduduk miskin di Kebumen termasuk nomor urut tiga dari bawah.

Kemiskinaan inilah sesungguhnya masalah utama pembangunan daerah yang “ extra ordinary” bagi pemerintah, sehingga pemerintah harus memecahkan masalah ini dengan cara-cara yang juga “extra ordinary” melalui strategi yang tepat.

Diterbitkan oleh

rodin

Sedang mencari inspirasi untuk mendapatkan hal-hal baru yang bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *